Semilir angin menembus
awan. Sayap jingga menuai asa. Langit sore kian meredup, gelap gulita
penggantinya. Hujan mulai meninggalkan bumi ketika kumandang adzan magrib mulaiberkumandang dari tiap-tiap toa masjid.
"Sudah ya, kamu sholat dulu. Aku juga mau sholat Isya" begitu ucapan penutup
perbincangan antara Nathan dan Elmira. Sudah 2 tahun belakangan Nathan yang
lulusan Tehnik Geologi ditugaskan untuk menambang sebuah site pertambangan
minyak di pedalaman Papua. Dan kini ia hanya dapat melepas rindu dengan sang
kekasih lewat bantuan signal-signal internet.
Elmira, gadis bermata senja yang ia kenal semasa kuliah kini tengah bekerja
sebagai assistant Lab micro biologi sambil melanjutkan studi S2nya di Bandung.
Gadis itu cinta pertamanya, saat pertama kali menatap Elmira di perpustakaan,
hati Nathan langsung memilihnya. Dialah puing puzzel yang hilang!
2 tahun yang lalu, ketika Nathan baru saja lulus dari Kampusnya dan dengan
toga kebesarannya ia memeluk Elmira penuh kasih sayang. Ia tahu waktunya
bersama Elmira tidak banyak lagi. Ketika Nathan menggarap skripsinya, sebuah
perusahaan asing melirik kemampuan Nathan dan menawarkannya sebuah kesempatan
untuk mengembangkan kemampuan di sebuah site pertambangan di pedalaman papua.
Papua, ribuan kilometer dari Bandung, bukan jarak yang mudah untuk sebuah
hubungan. Perbedaan dua jam waktu membuat semua akan semakin terasa sulit.
Sanggupkah? Pikir Nathan sebelum ia membalas email konfirmasi.
"Kan ada skype, Line, Path dan lain-lain. Percaya deh, jarak nggak akan misahin
kita" Elmira berusaha meyakinkan. Sebuah kalimat sederhana yang
membuat Nathan menjadi pemberani untuk mengambil pekerjaan beresiko itu.
Papua, meskipun banyak wisatawan bahkan backpacker bermimpi-mimpi untuk datang
kesana dan menikmati keindahan raja ampat, suku dhani dan lainnya tidak membuat
Nathan bersemangat ketika Hari H keberangkatannya menuju tanah yang merupakan
salah satu pulau terbesar di dunia dan sering menjadi objek jurnalis national
geographic untuk bahan beritanya.
"Nat, nanti kamu fotoin ya. Jarang-jarang kan kita kesini" ucap Andini,
seorang geologist tamu dari perusahaan lain. Andini sudah sebulan berada di
papua dan diminta perusahaan tempat Nathan bekerja unuk diperbantukan
menganalisis site pengeboran minyak disana.
Meskipun lahir dan besar di jakarta, Andini tidak tampak canggung dengan
kondisi papua yang sulit sinyal, pedalaman dan tidak ada mall besar tempat
biasa anak gaul ibukota nongkrong.
"Nat, ayo cepat. Kapalnya mau berangkat!" Teriak Andini yang sudah berada
di dermaga. Rencananya liburan tahun baru kali ini akan mereka sempatkan untuk
mengunjungi gugusan pulau raja ampat. Andini yang ternyata seorang traveler
tidak menyianyakan tugasnya kali ini. "Sambil liburan gratis" ucapnya
excited ketika hari pertama ia bercerita kepada Nathan betapa ia senang
ditugaskan ke Papua.
Nathan sendiri selama 2 tahun bekerja di Papua,belum pernah sekalipun menggunjungi
Raja ampat. Sebenarnya ia penasaran, tapi hari-hari liburnya pasti akan ia
habiskan di kamar messnya atau kepusat kota Sorong untuk mengobrol dengan
Elmira melalui Skype sambil ditemani beberapa
kaleng softdrink. Mess tempat nathan bertugas berada di dalam hutan dan sangat
sulit mendapatkan signal yang cukup untuk melakukan video call. Boro-boro video call, dapet sinyal untuk
mengirimkan sms atau bbm saja sudah bersyukur.
"Kamu tau, Raja ampat adalah salah satu tempat yang ingin aku kunjungi sebelum
aku mati. And it’s happening. I'm at Raja
ampet!" Teriak Andini begitu kapal milik Nando, salah seorang penduduk
kota sorong yang mereka kenal ketika mereka berjalan-jalan di jayapura.
"Sa sudah bilang, nggak akan
menyesal jika ko kesini. Sa saja sudah dari lahir disini tidak
pernah bosan kembali ke Raja ampat" ucap Nando sambil mengabadikan
pemandangan indah di sekitar pulau dengan kamera DSLRnya.
"Bagus juga ya.tapi disini signal susah. Handphone saya sos" ucap Nathan
sambil menggerak-gerakan hanphonye ke udara dengan harapan ada signal tersesat
sampai ke handphonenya agar ia bisa menggabari kekasih hatinya yang beribu
kilometer dari tempatnya berdiri.
"Forget your handphone for a while
and enjoy how God paint this lanscape" ucap Andini menepuk pundak
Nathan kemudian berlari ke bibir pantai bermain-main dengan ombak semetara
Nando masih asyik mengabadikan moment-moment mereka disana.
"Benar kata Andini, ko buang
jauh-jauh handphone ko dulu" timpal Nando.
Sore itu mereka menghabiskan sisa senja di salah satu pulau di raja ampat,
menikmati jingga di ufuk barat diantara deburan ombak dan semilir angin.
Perlahan percikan kembang api mulai menghiasi langit Raja ampat yang bertabur
seribu bintang.
“Ini malam tahun baru terindah aku” ucap Andini sambil terus memandangi langit
menyambut tahun baru. Malam itu malam pergantian tahan 2012 menjadi saksi
sebuah persahabatan terjalin.
Nathan dan Nando yang
duduk di kedua sisi Andini hanya tersenyum tanda setuju dengan ucapan Andini
barusan
***
Hujan memeluk bumi papua pagi itu seolah masih terlalu mencintai pulau yang
jarang di jamah hujan ini, sampai pukul 9 pagi hujan belum juga reda. Mungkin
ini cara Tuhan menyuburkan beberapa pohon yang mulai kering, mungkin juga ini
cara Tuhan mengakrabkan 2 manusia untuk berbagi cerita seputar hujan.
"Wah, jarang-jarang banget hujan di papua. Aku wajib mengabadikannya nih!"
Ucap Andini bersemangat dan langsung menggerigoh tas ranselnya seperti dora the
exploler dan mengeluarkan sebuah kamera DSLRnya
"Mau ikut nggak Nat?kita keluar motoin hujan sebentar" ajak Andini.
Nathan yang masih sibuk menganalisis beberapa data dari para penambang terperangah,
belum sempat menjawab tangan Adhini langsung menarik lengan Nathan dan tidak embiarkan Nathan duduk di mejanya.
"Din, nanti sakit! Udah yuk masuk" ucap Nathan memayungi gadis di sebelahnya
dengan jaket yang sejak tadi menyelimuti tubuhnya. "Bentar Nat, dikit lagi
nih" Andini masih sibuk memencet tombol-tombol di kameranya, mengabadikan
serpihan air yang menetesi daun-daun.
"Kamu harus cobain hujan di bandung.lebih indah dari hujan disini" kemntar
Nathan sambil menerawang keindahan hujan di kota yang berada di dataran tinggi
jawa barat dan memiliki curah hujan yang rapat. "Eh kok kamu foto
saya?" Tanya Nathan ketika lensa Andini mengarah pada Nathan.
"Kamu pria hujan" ucap Andini kemudian berlari menuju cube-cube
container yang dijadikan tempatnya ia bekerja selama di Papua dan meninggalkan
Nathan yang masih terpaku di luar.
***
Nathan tengah asyik membaca beberapa buku yang sengaja ia bawa dari jakarta.
Beberapa adalah buku milik Elmira. Kecintaan Elmira pada buku membuat Nathan
yang dulunya sangat malas membaca jadi ikut-ikutan larut dalam setiap kisah
dalam buku. Buku favoritnya dalah serial detektif sherloc karya Air Arthur
Conan
"Nat, ke pusat kota Sorong yuk. Ketemu sama Nando" seperti biasa,
Andini akan muncul ke di dalam mess Nathan tanpa mengetuk pintu dan langsung mengutarakan
maksud dan kemauannya.
"Tapi din, saya lagi nunggu telepon dari Elmira. Rencananya siang ini dia
mau telepon saya" tolak Nathan.
"Udahlah, kamu bisa bawa handphone kamu. Teleponan di jalan kan bisa"
timpal Andini "Nando mau ajak kita wisata kuliner. Pamannya baru membuka
lestoran di pusat kota" lanjut Andini
menggebu.
"Okelah kalau begitu, saya ganti baju dulu"
Nathan asyik berbagi cerita dengan teman-teman barunya. Belum pernah ia
sebahagia ini selama ada di Papua. Beribu-ribu kilometer dari orang-orang yang
ia cintai benar-benar menyiksa batinnya sampai-sampai ia tidak pernah sadar ada
banyak orang senasip dengannya. Contohnya Andini. Ia anak tunggal dan belum
pernah terpisah dari orang tuanya
untuk waktu lebih dari 1 minggu tapi nyatanya ia tetap bisa ceria meski jauh
beribu-ribu kilometer dari orang yang ia cintai. Justru ia menebarkan
keceritaan pada setiap orang yang ia temui. Sosok yang menginspirasi.
Begitu sampai mess Nathan lupa akan janjinya pada Elmira, ia buru-buru mengecek
handphonenya dan benar saja panggilan dari Elmira.
"Nat,aku telepon kamu kok nggak di angkat?" Begitu message pertama
dari Elmira.
"Nat, is everything ok?" Message selanjutnya.
"Semoga kamu baik-baik aja ya disana.nanti kalau udah nggak sibuk kamu
kasih tau aku. Wanna talk to you a lot of things"
Nathan mengerutkan kening, baru saja ia akan mengetik message pada
Elmira tapi langkah kaki Andini sudah kembali menghampiri.
"Nat, site A jebol. Yang keluar bukan minyak!" Teriak Andini dan langsung
membuat Nathan beranjak mengambil jaketnya yang tergantung di balik pintu
kemudian meninggalkan kamar messnya dan segala pikiran tentang Elmira.
Malam kian larut, Nathan masih menganalisis beberapa data dari para tehnisi dan
penambang. Sample-sampel cairan tengah dianalisis oleh Andini dengan
tabung-tabung reaksinya. Bagaimana bisa tanah yang mereka bor bukan berisi
minyak?mana mungkin, estimasi koordinatnya sudah benar. Foto citranya juga
menunjukan disana terdapat minyak,
hasil analisis kontur tanah Andini juga sudah tepat. Nathan masih memikirkan
berbagai kemungkinan lainnya. Ah apa iya, leluhur tempat itu kurang suka
keberadaan kita? Pikir Nathan soal mitos penduduk setempat bahwa tempat mereka
melakukan pengeboran adalah tempat keramat. Ah, persetan dengan hal gaib.
Akukan buakan dukun!
"Nat, Coba kamu minta kepala pengeboran untuk memperdalam titik pengeboran"
ucap Andini.
Nata terperangah, bener juga. Lets try! Berjam-jam mereka menunggu di sebuah
cube container yang dijadikan markas dan kantor. Bangunan-bangunan semi
permanen sengaja di bangun tidak jauh dari sana untuk para staff penambang agar
just in case, terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti malam ini. Dengan
sigap mereka bisa di panggil.
"Nat,pinjam pundakmu dong. Aku mau tidur sebentar" ucap Andini sambil
menelusuk duduk di sebelah Nathan dan merebahkan tubuhnya berjejer di sebelah
Nathan yang tengah duduk di sofa ditemani secangkir kopi panas.
"Nat,kalau kamu capek bangunin aku aja" lanjut Adini setengah sadar, tapi
matanya telah mengatup rapat. Nathan ikut bersandar di sofa, ia hanya tinggal
menunggu hasil dari kepala penambang. Jika masih bukan minyak yang keluar
terpaksa mereka harus mencari site lainnya dan artinya ia kembali harus
menganalisis diamana site yang tepat.
"Pak.." Kepala penambang yang berlumuran keringat tiba-tiba masuk dan
menggebu melaporkan hasil.
"Sttt" ucap Nathan memberikan isyarat agat tidak berisik,tubuh mungil
Andini tengah terlelap dalam segala mimpi-mimpi sambil memeluk lengan Nathan.
"Semuanya aman. Ternyata kami kurang dalam saja mengebornya" ucapnya tersenyum
memandang kedua atasannya.
Nathan tersenyum "oke!" Ucapnya setengah berbisik.
Malam itu mereka menghabisakn malam berdua, perlahan ada yang berbeda dengan
debaran jatungnya. Setiap kali Andini menarik lengannya atau sekedar bersandar,
jantung Nathan berdebar lebih cepat. Bahkan ketika Andini tersenyum memamerkan
kebahagiaanya seolah bumi berhenti sesaat dan membiarkan Nathan menikmati
senyuman yang tak pernah pudar itu. Persahabatan yang mereka bina kini berubah
menjadi puing-puing kasih sayang, rindu akan sosok Andini meski hanya beberapa
meter memisahkan mereka terasa begitu nyata tapi rasa ini terlalu asing.
Terlalu samar dan seolah bersekat dan berjarak seberapa dekatpun fisik mereka sekarang.
***
Perlahan ada yang berubah dengan hari-hari Nathan. Kali ini ia tidak lagi
merindukan pulau jawa seperti sebelumnya, dan sebaliknya ia sangat menikmati
tanah papua dengan berbagai budaya aslinya. Akhir pekannya tidak lagi
dihabiskan mencari signal untuk internetan tapi
dihabiskannya dengan mengabadikan keindahan alam papua dengan karena DSLR,
menelusuri hutan-hutannya, berburu sunset di pantai-pantai yang belum terjamah
bahkan belajar kebudayaan dan adat dari suku-suku asli disini. Hidup Nathan
kali ini 1000 kali lebih berwarna
ketimbang hanya sekedar membaca.
"Nat, habis ini kita bakar ikan hasil pancingan Nando yuk" ajak Andini,
anak ini memang keranjingan dengan ikan-ikan hasil laut papua. Menurutnya lebih
enak dari resep rahasia seafood dari bandar djakarta!
"Oke! Kamu tunggu aja di depan
mess" Ucap Nathan tak kalah semangat sambil bersiap. Nathan hendak
meninggalkan kamar messnya ketika handphone yang dahulu menjadi sahabatnya
mulai terlupa dan berdering. Elmira is calling...
"Halo" sapa Nathan.
"Kamu kemana aja?akhir-akhir ini susah dihubungin" protes Elmira
manja.
"Aku..ngg..susah signal" jawab Nathan berusaha meyakinkan.
Elmira tertawa,seolah
Nathan baru saja melontarkan sebuah joke "kamu
tau yang jadi masalah kita bukan lagi jarak, tapi waktu. You didn't
have enough time"
Nathan terdiam, ia ingin sekali bercerita pada Elmira apa yang terjadi.
Bagaimana ia menjalani hidupnya kini, betapa indahnya tanah papua yang dahulu
ia kesali dan bagaimana ia sangat menikmati hidupnya di papua sekarang, tapi
rasanya akan sulit menjelaskan pada Elmira tanpa sebuah miss comunication.
Hatinya masih untuk Elmira, tapi bukan Elmira yang ia tunggu kali ini.
"Nat, akhir tahun ini kontrak kamu habis kan? Aku nggak bisa berhubungan
seperti sekarang. Kalau kamu serius, kamu bisa kembali ke Bandung dan memulai
karir di sini. Aku nggak mau jadi orang yang menghalangi karir kamu, tapi aku
juga nggak mau jadi korban perasaan
atas hubungan ini. Aku harap kamu mikirin baik-baik. Have a nice day. Salam untuk Andini" jelas Elmira, dari
suaranya terdengar tenang. Seolah ia tengah membaca text dari sebuah artiket.
Tapi Nathan yang mendengarkannya, jantungnya berdegup kencang!
"Mir, tunggu" potong Nathan sebelum telepon terputus "kamu salah
pahan soal Andini" lanjutnya berusaha meyakinkan.
"Untuk apa yang ada di foto, mention-mention kalian di twitter cukup sebagai penjelasan atas
semua ini Nat" jelas Elmira kali ini dengan nada yang lebih tinggi. Bukan
kebiasaanya untuk berkata kasar apalagi bernada tinggi, tapi kali ini
sepertinya kekesalannya memuncak.
"Nat,kita sama-sama dewasa. Aku cukup paham, aku nggak mau terus-terusan
menjadi korban perasaan. Lebih baik aku belajar melepaskanmu sedini
mungkin" jelas Elmira dengan nada yang mulai mengendur dan nafas tang
mulai tidak beraturan. Nathan tau betul Elmira pasti amat tersakiti di sana dan
sekarang tengah bersedu sedah dengan lembaran-lembaran tissue yang menjadi
sahabatnya.
"Mir, maafkan aku" Nathan pada akhirnya hanya dapat berucap maaf. Tidak
tau harus bagaimana.
"Klik" telepon terputus.
***
"Nat, ini kan minggu terakhirku di Papua. Thanks ya sudah menjadi teman
atau kamu nggak keberatan sahabat terbaik selama aku disini" ucap Andini
syahdu. Sore ini Nando absen. Ia tengah pergi ke jayapura mengunjungi
kerabatnya disana. Sementara Nathan dan Andini memilih sebuah Pantai yang sepi, beberapa
minggu lalu mereka menemukan pantai ini bersama Nando. Dan minggu ini mereka meminjam
kapal Nando sebagai transportasi menuju kesini.
"Aku bakal kangen banget sama kamu, din" ucap Nathan ikut syahdu memandangi
matahari yang mulai menguning dan deburan ombak yang memecah karang.
"Nat,kamu tau kan aku memanggapmu lebih dari sekedar sahabat? Aku sayang
kamu,Nat" ungkap Andini tanpa menengok dan terus memandangi senja yang
semakin jingga di hadapannya.
Sekali lagi jantung Nathan seolah siap terjun bebas meninggalkan sang pemiliknya.
"Aku tau ini salah, kamu sudah punya Elmira. Tapi apakah ada yang salah
dari sebuah rasa?" Andini kali ini menjelaskan dengan nada bergetar,
seolah menahan deburan perasaan yang berkecambuk di dalam dirinya.
"Din, nggak ada yang salah dari sebuah rasa. Hanya waktunya saja tidak tepat"
jelas Nathan.
"Tapi kenapa Nat, Kenapa Tuhan malah ngenalin kamu dan menitipkan rasa ini
ketika pada akhirnya Dia mengambilnya kembali" rengek Andini.
"Din,aku juga sayang kamu. Aku juga kadang nyeselin itu. Kenapa sekarang
baru Tuhan ngenalin kamu. Tapi aku tau, Tuhan pasti punya rencana bukan?
Seperti mengirimkan kamu ketika aku merasa lemah untuk bertahan disini. You
made my day. All my day"
"Nat, kalau kamu juga sayang sama aku, kenapa kita harus saling meracuni
dengan berbagi jarak dan mengingkari semua yang ada?" Andini kali ini
mulai tidak dapat menahan emosi, air matanya mulai memenuhi matanya yang indah
dan siap terjun bebas ke pipinya.
"Din, simpan semua rasa yang kita punya sekarang untuk orang yang tepat
untuk kita. Kita cuma saling mengisi kekosongan sementara. Aku yakin setelah
kamu pulang dari sini akan ada laki-laki yang pantas untukmu" Nathan berusaha
meyakinkan dan memeluk Andini yang telah berhujan air mata.
Sore itu senja menjadi saksi atas kegelisahan perasaan mereka. Jingga yang
menguning menjadi penggantar segala jawaban. Perlahan langit yang menguningpun
berganti dengan gelap.
***
"Nathan, bagaimana?apa kamu bersedia menjadi supervisior untuk site kita
di Papua?" Tanya Pak Cokro, siang itu cuaca papua sedang cerah. Daun-daun
tua mulai melepaskan diri dari tangkainya dan meninggalkan dahan terbang entah
kemana.
Nathan tersenyum, ia sudah tau kemana arah pertanyaan ini. Ia telah memikirkannya
sebulan belakangan. Hidupnya kembali membosankan semenjak sebulan yang lalu
Andini pulang ke Ibu kota. Sepertinya ia sudah tidak memiliki alasan lagi untuk
tetap bertahan di pulau yang
menyimpan banyak surga tersembunyi ini. "Saya butuh challenge baru pak,
kalau bapak tidak keberatan saya akan senang jika di tugaskan kembali di
jakarta atau kota mana saja" jawab Nathan.
"Karir kamu akan sangat berkembang jika disini" lanjut Pak Cokro, ia tahu
betul Nathan. Salah satu lulusan terbaik dan berpotensi. Terlalu sayang jika ia
harus merelakan pegawai dengan kemampuan seperti Nathan.
"Saya terlalu rindu akan ibu kota pak, sebagian dari diri saya sudah ada
disana"
Pak Cokro mengangguk berusaha mengerti, memang berat meminta pemuda dengan masadepan
yang panjang seperti Nathan untuk bertahan di kota terpencil seperti ini. Ia
menghargai keputusan salah satu partner kerja terbaiknya. "Well, saya akan
coba hubungi kantor pusat"
"Terimakasih pak" ucap Nathan.
***
Nathan berjalan menelusuri lorong-lorong yang kosong, dulu beberapa tahun lalu
disini tempat ia menghabiskan waktu. bercumbu dengan buku-buku tebal, berbagi
tawa dengan teman seangkatan bahkan berbagi mimpi dengan Elmira.
Lorong itu sepi, hanya ada beberapa mahasiswa berlalulalang melewati koridor
menuju kelas. Mungkin karena sedang musim liburan, banyak mahasiswa yang lebih
memilih berlibur ketimbang nongkrong di kampus atau sekedar bertegur sapa
dengan dosen.
Ah, a simple life as student. Pikir
nathan, mungkin ia rindu bagaimana UAS membunuhnya dengan diktat-diktat kuliah
atau sekedar begadang berduaan dengan laptop membuat pepper yang kejar
deadline. Tapi toh segala yang telah dimakan sang waktu tidak akan kembali
bukan, bukankah kita harus tetap realistis menjalani hidup dan hanya cukup sesekali
membaca lembaran yang telah kita tutup?
Langkah Nathan semakin cepat ketika dilihatnya sosok yang sangat familiar
melintas di hadapannya. Siluet gadis ramping berkuncir kuda dengan kemeja fanel
berwarna biru awan. Elmira. Ia masih tetap sama seperti 2 tahun yang lalu saat
ia tinggalkan.
"Mira!" Panggil Nathan.
Elmira menengok ke arah sumber suara dan terperangah begitu ia lihat sosok
Nathan di hadapannya.
"As per my promise. I'm going home
and you are my home"
Elmira tersenyum. "Jadi udah lupa sama Andini nih?"
Nathan tertawa.
Bandung cerah kala itu, hujan seolah enggan memeluk bumi dan semesta berkonspirasi
menjadi saksi pertemuan kembali Nathan dan Elmira. Mereka kembali berbagi
cerita, berbagi mimpi di salah satu jalanan di braga. Menikmati langit senja
yang menguning tanpa berfikir
sekeliling. Sore itu kening Elmira menjadi persinggahan bibir Nathan. Langit
kembali menjadi saksi sebuah cerita.
Tentang Andini, Nathan selalu berdoa semoga Andini dalam keadaan bagahia.
Mungkin ini caranya untuk membalan cinta Andini, dengan terus mendoakannya. Mendoakan
sebuah persinggahannya saat di Papua yang selalu menjadi pelepas dahaga
diantara kerinduan yang terpendam.